Kebanyakan orang tua memiliki pemahaman dasar perlunya mendisiplinkan anak untuk pertumbuhan dan perkembangan anak ke arah yang baik. Namun, mengasuh seringkali tidak nyaman dan banyak tantangan.

Mau tidak mau, pada akhirnya anda akan menerapkan kedisiplinan pada anak. Tetapi masalahnya, anda sering menerapkan disiplin yang salah. Orang tua cenderung menerapkan cara negatif atau keras untuk mendisiplinkan anak mereka. Sangat penting untuk mengajarkan nilai disiplin kepada anak yang sedang tumbuh, tetapi tidak dengan biaya bersikap kasar padanya.

Meskipun hal itu mungkin langsung memberikan hasil yang anda ingin anak lakukan, hal itu paling sering merugikan anda dan anak dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, mendisiplinkan anak merupakan strategi yang harus anda terapkan dengan efektif. Berikut adalah contoh disiplin yang harus dihindari setiap orang tua kepada anaknya.

  1. Kekerasan Fisik

Strategi kekerasan fisik dalam bentuk apapun tidak dapat dibenarkan. Mungkin pada saat anda kecil, anda masih merasakan pukulan dari orang tua anda, namun strategi ini tidak pernah berhasil sebenarnya. Strategi ini menyebabkan luka fisik dan trauma pada anak dan bahkan mempengaruhi emosional mereka.

Jika anda ingin anak dapat tumbuh menjadi orang yang baik dan mengingat masa kecilnya dengan bahagia, jangan pernah menggunakan kekerasan fisik dalam bentuk apapun untuk mendisiplinkan anak. Kekerasan fisik bukanlah sebuah pilihan.

  1. Berteriak pada Anak

Ini salah satu yang cara mendisiplinkan anak yang paling umum dan masuk dalam kategori negatif untuk dilakukan. Banyak orang tua mengeraskansuara mereka dengan ekspektasi anak akan lebih mendengarkan. Nyatanya, sebenarnya sebagai orang tua tahu anda seharusnya sadar bahwa suara yang lebih keras tidak menghasilkan anak yang lebih patuh.

Meneriaki anak-anak dan menggunakan kata-kata yang menyebabkan rasa sakit atau malu emosional juga terbukti berbahaya. Disiplin dengan kata-kata keras menyebabkan lebih banyak perilaku buruk dan masalah kesehatan mental muncul pada anak.

Banyak peneliti yang sudah menunjukkan bahwa disiplin verbal yang keras justru memunculkan semakin banyak masalah perilaku pada anak-anak. Faktanya, ini melatih anak anda untuk selalu mencobai anda sebelum akhirnya anda sebagai orang tua mencapai “titik terakhir” kesabaran anda.

  1. Memberi Ancaman agar Anak Berhenti

Jika berteriak tidak berhasil, ancaman sering kali merupakan disiplin selanjutnya yang muncul. Kalimat yang dimulai dengan kata-kata “Kalau kamu masih melakukannya lagi …” menjadi terlalu umum.

Ini juga merupakan disiplin yang kurang baik dan tidak efektif kepada anak. Salah satu bahaya terbesar dari pola asuh anak yang berbasis ancaman adalah bahwa orang tua jarang menindaklanjuti konsekuensi yang dinyatakan, hanya sekedar ancaman. Pada akhirnya anak paham bahwa ancaman itu tidak benar-benar akan dilakukan orang tua sehingga dia melakukannya lagi dan lagi.

  1. Menjadi Jauh atau Dingin

Untuk menghukum anak anda atas kesalahannya, anda memilih bersikap menjauh atau bersikap dingin padanya. Orang tua, strategi seperti ini tidak boleh diterapkan pada anak. Anak masih bergantung pada orang tua untuk mendapatkan dukungan dalam berbagai aspek.

Ketika anda mendisiplinkan anak anda dengan menjaga jarak dan bertindak dingin kepada anak, anda membuat mereka kesulitan percaya kepada anda secara tidak sadar menanamkan pemikiran untuk menjauhkan diri dari anda.

  1. Menyuap Anak

Ada beberapa orang tua yang menerapkan strategi memohon kepada anak untuk patuh atau mencoba membujuk mereka agar taat dengan memberikan penyuapan dalam bentuk barang atau hal yang anak inginkan. Meskipun memohon kepada anak terlihat positif, menggunakan strategi penyuapan ini mengajarkan motivasi yang salah untuk berperilaku baik bagi anak.

Orang tua yang ingin mengajarkan anak tentang karakter dan perilaku yang sesuai sebagai cara hidup seharusnya tidka menggunakan suap dalam strategi disiplinnya. Hal ini dapat membuat anak berpikir bahwa mereka selalu berhak mendapatkan sesuatu yang istimewa sebagai imbalan atas perilaku yang baik. Pada akhirnya, mereka akan selalu berbuat baik untuk mendapatkan sesuatu (take it for granted).

  1. Membohongi Anak

Orang tua serng memarahi anak mereka ketika ketahuan berbohong. Tetapi terkadang orang tua dengan sengaja berbohong kepada anak mereka demi tujuan tertentu. Hal yang paling sering terjadi dengan kebohongan adalah janji-janji orang tua kepada anak.

Ketika orang tua berjanji untuk melakukan sesuatu agar anak patuh terhadap perkataan mereka dan pada akhirnya tidak memenuhi janji itu. Meskipun tipu daya dapat berhasil, terutama pada usia muda, tipu daya juga sering bertentangan dengan apa yang ingin anda capai dalam mengasuh anak. Ini akan menumbuhkan rasa ketidakpercayaan anak terhadap anda yang pada akhirnya mengurangi efektivitas pengasuhan anda sebagai orang tua.

November 14, 2020

Check out other Versions of this Article!
Check out other Versions of this Article!
Welcome to friscaonora.com
Enter your email to sign in or sign up.
or
By clicking a ‘Continue with’ button above, I accept the Terms of Use and I acknowledge that I have read and understand the Privacy Policy.
Forget Your Password?

Most Popular

Newest

Alphabetical

Price (high-low)

Single Use

Apparel

Drinkware

Accessories

Single-Use Alternatives
Phone Case #DearParents
20
5/5
Rp54.500
Rp38.150
Stasher Reusable #DearParents
240
3.7/5
Rp14.500
Rp13.050
Reusable Shopping Bag #DearParents
120
3.5/5
Rp12.000
FinalStraw Collapsible Travel Straw 2.0 #DearParents
52
3.5/5
Rp84.000
Rp42.000
Apparel
Blue T-shirt #DearParents
2
2.5/5
Rp100.000
Rp75.000
Grey T-shirt #DearParents
5
5/5
Rp100.000
Classic Trucker Hat - Large #DearParents
2
1/5
Rp200.000
Rp50.000
Face Mask 2 Pack #DearParents
264
4.5/5
Rp14.000
Rp13.300